cari penawaran properti

Friday, 7 March 2008

Kondotel & sikap konsumen



Reputasi manajemen pengelola sangat menentukan prospek sebuah kondotel
Kondotel (kondominium hotel), apartel (apartemen hotel), atau service apartment adalah apartemen juga. Hanya kalau apartemen dibeli untuk dihuni atau disewakan sendiri, kondotel benar-benar untuk investasi. Setelah dibeli apartemen dikelola sebuah manajemen sebagai hotel selama waktu tertentu (10-20 tahun). Anda sebagai pemilik atau investor menerima pendapatan sewa sesuai keuntungan kondotel pada tahun itu.
Biasanya untuk menarik peminat developer memberi garansi pendapatan sewa sekian tahun setelah kondotel dioperasikan. Oakwood Premier Cozmo, sebuah kondotel mewah di Mega Kuningan, misalnya, memberi garansi sewa 7 persen/tahun dalam dolar AS. Sedangkan garansi sewa Aston Rasuna dan Serpong Town Square (keduanya kondotel menengah) 10 persen per tahun dalam rupiah.
Manajemen kondotel umumnya jaringan pengelola hotel profesional. Sehabis masa pengelolaan, kondotel dikembalikan ke pemilik (investor) sebagai apartemen biasa. Selama masa pengelolaan investor tidak bisa menghuni apartemennya. Kalaupun bisa, seperti kondotel di daerah wisata, dibatasi 2-3 minggu per tahun.
Menurut Hary Jap, prinsipal Ray White Pluit dan Pondok Indah yang memasarkan Oakwood, kondotel merupakan respon terhadap penyewa jangka panjang (long stay). "Long stay di hotel kan mahal," katanya. Dari sisi developer kondotel juga meringkas masa pengembalian investasi, ketimbang hotel yang baru balik modal belasan tahun kemudian.
LEASE HOLD
Kondotel sama dengan hotel; harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan pada hotel dengan level setara. Tapi, karena didesain untuk long stay, suasana pengelolaannya lebih homy (rumahan). Misalnya, ada living room untuk menerima tamu. Sewanya pun lebih murah. Setiap unit cukup untuk satu keluarga karena kamarnya bisa lebih dari satu. Biaya pengelolaan dan karyawannya juga lebih kecil. "Ibaratnya ganti seprei tidak mesti tiap hari kayak hotel. Cukup tiga hari atau lima hari sekali," ujarnya.
Belakangan banyak kondotel ditawarkan. Tidak semua didesain sejak awal sebagai kondotel. Menurut jurnal perdana Indonesia Property Watch April 2006, sebagian adalah apartemen strata yang diubah menjadi kondotel karena lesunya pasar. Setengahnya sudah mendapatkan manajemen pengelola, yang lain masih penjajakan atau pembicaraan dan karena itu belum di-launching resmi seperti Senayan City, Senayan Residence, The Albergo, dan Poins Square.
Ada yang fully kondotel seperti Oakwood dan Kempinsky, ada yang salah satu menaranya saja kondotel seperti Sommerset Berlian, Senayan Residence, dan Serpong Town Square, ada pula yang cuma sebagian lantainya kondotel seperti MayFlower. Kebanyakan kondotel berstatus strata title, beberapa berbentuk sewa jangka panjang (lease hold) karena dibangun secara BOT (built, operating, transfer) seperti Senayan City, Kempinsky, dan Nusa Dua Golf Resort.
Setelah masa sewa habis, kondotel kembali ke pemilik tanah. Kondotel ini biasanya lebih murah dibanding kondotel sekelas, tidak bisa diagunkan ke bank, dan harus dibeli tunai. Kelebihannya tidak terkena BPHTB 5 persen dan PPnBM 20 persen, dan bisa dilepas kepada orang asing.
MANAJEMEN PENGELOLA
Sebaiknya beli yang sejak awal didesain sebagai kondotel karena lebih memberikan kepastian pendapatan sewa. Pasalnya, manajemen pengelolanya ikut terlibat sejak awal dalam mendesain kondotel sehingga benar-benar fokus ke segmen yang dituju. Tapi, apartemen yang diubah menjadi kondotel pun tidak apa asal dikelola manajemen profesional.

judul : menyikapi penawaran Kondotel
www.estate.co.id
Tuesday, 25 September 2007 [ kondotel ]

Monday, 3 March 2008

Pasar Kondotel Marak



SURABAYA: Pasar kondominium dan hotel (kondotel) di Kota Surabaya semakin marak menyusul banyaknya pengembang besar yang mulai membangun hunian bergaya moderen itu.
Dari data yang dihimpun Bisnis selama 2007, banyak pengembang dalam dan luar negeri yang merealisasi proyek kondotelnya di Surabaya.
Tercatat dua pengembang yang kini melaksanakan pembangunan kondotel, yaitu PT Adco Graha Sejahtera-PT Aston Internasional dengan Aston Place Twin Tower, PT Lippo Karawaci Tbk. dengan The Regency Kondominium di super block City of Tomorrow (CiTo), serta Pakuwon Grup yang membangun apartemen De Residence di kawasan Surabaya Barat.
Vice President Aston Internasional John Flood mengatakan pasar kondotel kian diminati konsumen Surabaya, khususnya kondotel di kawasan superblock.
Menurut dia, konsep kondotel menyediakan gaya hidup ringkas bagi penghuninya, sehingga pengembang dalam negeri maupun asing berani berinvestasi membangun kondotel di kota ini.
Rata-rata tingkat okupansi apartemen berada di kisaran 90% - 95%, dan okupansi kondotel di Surabaya diharapkan mencapai 80%- 9 0%.
Di tingkat persaingan, menurut dia, akan memudahkan pengembang mencapai room rate maupun room nite, sehingga pemilik akan mendapat turn over yang menguntungkan jika unitnya dijual kembali.
Hal senada disampaikan Paulina Puspitasari, Marketing Manager The Regency, proyek kondominium PT Lippo Karawaci Tbk.
"Tipe konsumen Surabaya adalah ingin produk murah, tapi fasilitas lengkap berkelas seperti hotel. Kondotel bisa jadi alternatif investasi dalam bentuk properti."


judul : 'Pasar kondotel di Surabaya makin marak'
Oleh S. Ardiansyah


Senin, 06/08/2007